Abdhi Mujahid Jangan Bosan Jadi Orang Baik

Rumah Adat Kalimantan Barat

3 min read

rumah adat kalimantan barat

Rumah Adat Kalimantan Barat – Kehidupan khas suku Dayak asli yang tidak bisa ditemukan di tempat manapun di dunia.

Diantara ciri-ciri khas suku Dayak ialah kalung dengan liontin yang terbuat dari taring babi, penandaan strata sosial warga dengan banyaknya tato obor yang dimilikinya, pernak-pernik dari batu, dan rumah adat.

Kalimantan Barat yang ternyata berasal dari Suku Dayak biasa disebut dengan rumah panjang.

Kehidupan bahari dan maritim di daerah ini dapat kita buktikan dengan pengambilan  nama Suku yang hidup mendominasi di Kalimantan Barat, yaitu suku Dayak.

Kebanyakan orang mengartikan suku dayak sebagai “manusia” atau “pedalaman”.

Akan tetapi menurut masyarakat Tunjung dan Benuaq arti kata Dayak merupakan “Hulu Sungai” Suku dayak sendiri terbagi dalam beberapa macam rumpun menurut wilayahnya yaitu, rumpun klemantan (kalimantan), rumpun iban, rumpun kelompok murut, kelompok danum ngaju dan kelompok punan.

Dari kekayaan budaya yang dimiliki seperti Rumah Adat Kalimantan yang bernama Rumah Panjang mempunyai ciri khas terlihat dari komponen-komponen yang ada serta Rumah Adat yang mengandung nilai moral dari Suku Dayak.

Ciri fisik bangunan dari rumah adat Kalimantan yang memiliki nilai moral tinggi Suku Dayak akan dijelaskan dibawah ini:

Bentuk Fisik Bangunan Rumah Panjang

rumah adat kalimantan barat

Seperti penamaannya rumah panjang mempunyai ukuran yang tidak biasa. Rumah dengan berbahan dasar kayu ini mampu mencapai ukuran 180 meter dengan lebar 6-30 meter.

Tinggi bangunan mencapai 5-8 meter, dengan bentuk seperti panggung. Untuk bisa masuk kedalam rumah panjang harus meniti tangga ( atau yang disebut hejot ).

Tangga-tangga tersebut harus berjumlah ganjil dan disesuaikan dengan luas rumah, semakin luas rumah maka semakin banyak tangga yang dibuat.

Pembuatan tangga di rumah adat Kalimantan Barat ini memakai kayu ulin. Kayu yang dikenal kokoh dan mampu bertahan hingga ratusan tahun.

Sedangkan lantai dari rumah adat Kalimantan Barat dibuat dari bambu yang dibelah atau kayu-kayu belahan pinang yang  kuat berbentuk bulat lurus. Yang dindingnya disekat dengan menggunakan papan.

1. Interior Bangunan

Pembagian ruangan dalam rumah adat ini meliputi beberapa bagian yang dibuat untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

2. Ruang Tamu

Sering disebut dengan Samik. Didalam ruangan inilah warga suku Dayak menerima tamu-tamu mereka.

Di dalam ruangan ini pasti selalu ada meja yang dipakai untuk menjamu, meja ini berbentuk bulat. Dan disebut dengan Pene oleh warga suku Dayak.

3. Pente Atau Teras

Layaknya bangunan rumah modern yang mempunyai halaman depan sebagai teras, rumah adat Kalimantan Barat juga mempunyai teras yang berada di bagian depan rumah.

Ruang ini dipakai sebagai tempat pelaksanaan ritual keagamaan atau upacara-upacara adat oleh semua anggota keluarga Suku Dayak.

4. Kamar Tidur

Jumlah kamar tidur di rumah panjang menyesuaikan dengan jumlah keluarga yang tinggal didalamnya. Kamar tidur di rumah Panjang berjumlah sangat banyak tergantung jumlah penghuni rumah. Akan tetapi aturan baku di rumah adat kalimantan Barat ini merupakan bahwa kamar orang tua berada di pangkal aliran sungai dan berjajar sampai dengan ujung yang ditempati oleh anak bungsu.

5. Ruang Keluarga

Bisa dibayangkan betapa luasnya ruang keluarga suku Dayak?

Tentulah ukuran ruang keluarga dari bangunan rumah utama yang mampu mencapai 180*30 meter ini sangat luas.

Ruangan ini berbentuk persegi panjang dan berada di tengah bangunan rumah adat kalimantan Barat.

6. Belakang Rumah

Di rumah modern penataan ruangan bisa bebas sesuai keinginan tuan rumah, akan tetapi hal ini tidak berlaku bagi penghuni rumah adat kalimantan Barat. Belakang rumah harus difungsikan sebagai dapur menghadap aliran sungai dan tempat penyimpanan hasil panen.

Baca juga: Alat Musik Kalimantan

Nilai Moral Yang Terkandung Dalam Rumah Panjang

rumah adat kalimantan barat

Bangunan khas rumah adat Kalimantan Barat yang kuno ini, tidak hanya mengandung nilai fungsional.

Tidak hanya sebagai tempat tinggal, tempat berteduh dan tempat perlindungan diri saja. Akan tetapi lebih dari itu,dari bangunan khas suku Dayak ini mempunyai maksud  banyak sekali mengajarkan  nilai-nilai luhur yang patut untuk diteladani oleh kehidupan modern sebagai pedoman bersikap dalam  bermasyarakat.

Bangunan yang luas dengan banyak penghuni bahkan hingga beberapa kepala keluarga, tentunya dengan latar belakang yang  berbeda, dengan penghasilan yang tidak sama melambangkan kehidupan Suku Dayak yang sangat romantis dan menjunjung tinggi persatuan, rasa saling berbagi yang kuat dan toleransi yang mendalam.

Penentuan muka rumah yang sesuai dengan arah mata hari terbit dan belakang rumah yang mengikuti arah matahari terbenam. Mengajarkan arti kerja keras sepanjang hari hingga hari berakhir. Tidak hanya berpangku tangan dan bermalas-malasan. Hal ini membuktikan betapa pekerja kerasnya penduduk suku dayak.

Sistem perumahan dimana satu rumah bisa ditinggali oleh beberapa kepala keluarga ini memberikan contoh kepada kita bahwa masyarakat suku Dayak tidak pernah membeda-bedakan status sosial antara sesama.

Mereka tidak membedakan anggota suku dayak. Tidak dibedakan oleh usia, keturunan, kekayaan yang dimilikinya, rupa yang tampan dan cantik bahkan jabatan yang diperoleh.

Hebat sekali bukan Moral yang bisa kita contoh cari filosofi rumah adat Kalimantan Barat ini?

Bangunan kuno yang mengandung banyak pelajaran norma seperti Persamaan diantara masyarakat, gotong royong, rasa berbagi, toleransi dan memandang sama rata tanpa melihat kekayaan, kedudukan, rupa dan garis keturunan diantara anggota masyarakat tidak akan pernah dianggap kuno.

Itulah sekilas mengenai Rumah Panjang yang merupakan rumah adat Kalimantan yang mempunyai ciri has dan nilai kearifan yang tinggi.

Sudah sangat pantas kita kita menjaga nilai budaya yang dimiliki oleh negara kita Indonesia yang ada di Pulau Kalimantan ini. Suku dayak yang masih menjaga tradisi budaya menjadikan rumah adat kalimantan masih lestari sampai saat ini.

referensi: romadecade.org

 

Abdhi Mujahid Jangan Bosan Jadi Orang Baik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *